Teologi Tawa dalam Sebuah Perjumpaan Persaudaraan

Dr. Luqman Hakim, S.H.I.,M.Si dari IAIN Pontianak dan Dr. Laurentius Prasetyo, CDD, dari Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Saya perhatikan ada sesuatu yang menarik dari foto ini. Dua orang duduk berhadapan. Yang seorang mengenakan batik, yang seorang lagi mengenakan pakaian imam dengan kerah putih khasnya. Di antara mereka ada sebuah meja kecil dengan tanaman hijau dalam vas kaca. Tidak terlihat buku teologi, naskah akademik, ataupun dokumen kerja sama antarlembaga. Yang tampak justru sesuatu yang jauh lebih sederhana: dua wajah yang sedang tertawa lepas.

Saya memandang perjumpaan ini sebagai sebuah pengalaman kecil yang menyimpan makna besar. Sebab, kadang-kadang Tuhan memperkenalkan keindahan persaudaraan melalui cara yang tidak terlalu rumit. Tidak melalui perdebatan panjang tentang doktrin, tidak melalui rumusan akademik yang berlapis-lapis, tetapi melalui kegembiraan yang lahir ketika dua manusia merasa nyaman berada dalam satu ruang perjumpaan.

Dr. Lukman datang dengan latar belakang dunia akademik Islam, sedangkan saya menjalani kehidupan sebagai imam Katolik sekaligus akademisi. Kami memiliki tradisi keagamaan, pengalaman spiritual, dan lingkungan pendidikan yang berbeda. Namun, dalam perjumpaan itu, perbedaan tidak harus menjadi sesuatu yang dipersoalkan. Kami dapat duduk bersama dan tertawa.

Saya kemudian berpikir: barangkali inilah yang dapat disebut sebagai teologi tawa.

Teologi yang tidak pertama-tama ditulis di atas kertas, tetapi dialami dalam kehangatan hubungan manusia.

Tawa memiliki bahasa yang unik. Ia tidak memerlukan penerjemah. Ketika seseorang tertawa dengan tulus dan orang lain ikut tertawa, sesuatu yang sederhana tetapi mendalam sedang terjadi: jarak sosial mengecil, ketegangan mereda, dan rasa persaudaraan memperoleh ruang untuk tumbuh.

Dalam tradisi Kristiani, sukacita memiliki tempat penting dalam kehidupan iman. Rasul Paulus mengajak umat untuk bersukacita senantiasa dalam Tuhan (Flp. 4:4). Sukacita itu bukan berarti manusia terbebas dari persoalan, melainkan bahwa dalam kehidupan yang tidak selalu mudah, masih ada alasan untuk bersyukur dan merayakan kebaikan.

Demikian pula, perjumpaan dengan saudara dari tradisi agama yang berbeda mengingatkan saya pada ajakan Gereja dalam deklarasi Nostra Aetate artikel 3 untuk menghargai umat Islam dan membangun saling pengertian. Dialog sejati tidak selalu dimulai dari pembahasan teologis yang berat. Sering kali dialog justru bertumbuh dari kesediaan untuk mendengarkan, menghargai, dan menerima orang lain sebagai sesama manusia.

Dalam bahasa filsafat Thomas Aquinas, persahabatan berkaitan erat dengan kehidupan yang baik. Dalam Summa Theologiae II–II, q. 168, a. 2, Aquinas bahkan membicarakan perlunya permainan dan kegembiraan yang pantas sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan manusia. Manusia membutuhkan penyegaran jiwa, sebagaimana tubuh membutuhkan istirahat.

Maka tawa yang sehat tidak perlu dipertentangkan dengan keseriusan iman.

Orang beriman tidak kehilangan kedalaman spiritualnya ketika tertawa. Justru, dalam tawa yang tulus, ia dapat memperlihatkan wajah kemanusiaan yang terbuka terhadap sesamanya.

Saya juga teringat sebuah ungkapan Latin, Ubi caritas et amor, Deus ibi est; di mana ada cinta kasih, di situ Allah hadir. Ungkapan liturgis ini terasa begitu dekat dengan pengalaman perjumpaan tersebut. Ketika kasih menjadi dasar hubungan, kehadiran orang lain tidak lagi dipandang sebagai ancaman terhadap identitas diri, melainkan sebagai kesempatan untuk memperluas persaudaraan.

Tentu saja, sebuah perjumpaan yang penuh tawa tidak serta-merta menyelesaikan berbagai persoalan hubungan antaragama. Perbedaan teologis tetap ada dan layak dihormati. Namun, perbedaan tidak harus menghalangi lahirnya persahabatan yang tulus.

Saya melihat satu pelajaran penting bagi dunia pendidikan tinggi keagamaan. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang cerdas secara intelektual. Kampus juga perlu melahirkan manusia yang matang secara emosional, rendah hati secara spiritual, dan terbuka secara sosial. Seorang akademisi boleh memiliki argumentasi yang tajam, tetapi jangan sampai kehilangan kelembutan dalam memperlakukan sesamanya.

Dan barangkali di sinilah humor mempunyai fungsi yang tidak kecil. Humor yang baik mengajarkan seseorang untuk tidak selalu menempatkan dirinya sebagai pusat segala sesuatu. Orang yang mampu tertawa bersama orang lain sedang belajar memberi ruang bagi orang lain untuk hadir.

Saya membayangkan, seandainya setiap perjumpaan akademik lintas agama memiliki suasana persaudaraan seperti ini, dialog keagamaan tidak hanya berlangsung dalam seminar, konferensi, dan ruang kuliah. Ia juga hidup dalam percakapan sehari-hari.

Ada istilah yang sering dipakai dalam bahasa Indonesia: tertawa bersama. Dua kata yang sederhana, tetapi mengandung makna relasional yang mendalam. Tertawa bersama berbeda dengan menertawakan orang lain. Yang pertama membangun persaudaraan; yang kedua dapat melukai martabat manusia.

Pada foto ini, saya melihat kegembiraan yang pertama.

Di tengah berbagai tantangan kehidupan beragama, saya semakin percaya bahwa kemampuan membangun persahabatan merupakan salah satu bentuk kedewasaan iman. Kita tidak perlu mengurangi kecintaan terhadap tradisi iman sendiri untuk dapat menghormati orang yang memiliki keyakinan berbeda.

Pertemuan ini juga membuat saya tersenyum ketika memikirkan dunia akademik. Betapa sering kita menghabiskan waktu membicarakan epistemologi, ontologi, metodologi, dan berbagai istilah ilmiah yang panjang. Semuanya penting, tentu saja. Tetapi pada kesempatan tertentu, teologi rupanya bisa hadir tanpa perlu lebih dahulu membuka laptop.

Cukup dua kursi, sebuah meja, secangkir kehangatan persaudaraan; dalam arti kiasan dan tawa yang tidak dibuat-buat.

Ha ha ha!

Mungkin itulah kuliah teologi yang paling singkat, tanpa SKS, tanpa ujian tengah semester, dan tanpa daftar pustaka yang harus disetor. Tetapi pesannya cukup mendalam untuk dibawa pulang.

Saya kembali memandang foto itu. Dua orang dengan latar belakang yang berbeda, duduk dalam ruang yang sama, menikmati kegembiraan sebuah perjumpaan.

Tanaman kecil di tengah meja seolah menjadi pengingat bahwa persaudaraan juga memerlukan ruang untuk tumbuh. Ia membutuhkan perhatian, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling menghargai.

Saya tidak tahu apakah kelak orang akan mengingat apa yang kami percakapkan. Tetapi foto ini telah menyimpan satu hal yang jelas: kegembiraan sebuah perjumpaan.

Dan dari situ saya menemukan sebuah kesimpulan sederhana:

“Iman yang dewasa tidak takut pada perbedaan, kasih yang tulus tidak membutuhkan keseragaman, dan persaudaraan yang sejati kadang-kadang dimulai dari satu tawa yang sama.”

Terima kasih, Dr. Luqman, atas perjumpaan persaudaraan ini. Semoga dunia akademik dan kehidupan keagamaan kita semakin memiliki banyak ruang untuk saling mendengarkan, saling belajar, dan tentu saja, tertawa bersama. Sebab, teologi tidak selalu harus membuat dahi berkerut. Sesekali, teologi juga perlu membuat pipi pegal karena tertawa.

Pontianak, Kamis pagi, 5 November 2026.
Dr. Laurentius Prasetyo, S.S., M.Th., M.M., CDD

Renungan singkat:
“Ketika dua orang berbeda iman dapat tertawa bersama, mereka sedang mengajarkan sesuatu yang berharga: persaudaraan tidak menuntut kita menjadi sama, tetapi mengundang kita untuk saling menerima dalam kasih.”

Refleksi Laurentius Prasetyo

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top