Pontianak — Kesenjangan antara riset akademik dan kebutuhan industri masih menjadi persoalan serius yang menghambat daya saing nasional. Jika tidak segera dibenahi, Indonesia berisiko terus berada dalam posisi sebagai pengguna teknologi, bukan pencipta inovasi. Isu strategis ini mengemuka dalam International Guest Lecture yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak bersama Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), Selasa (13/1/2026).
Dalam forum internasional tersebut, Prof. Dr. Mohammad Affendy Arip, Director of the Centre for Graduate Studies UNIMAS, menegaskan bahwa banyak negara berkembang terjebak dalam paradoks riset: produktif secara akademik, namun minim dampak ekonomi. Riset perguruan tinggi menghasilkan ribuan publikasi, tetapi gagal bertransformasi menjadi inovasi industri yang menciptakan nilai tambah.
“Tanpa integrasi yang kuat antara universitas, industri, dan kebijakan negara, riset hanya akan berhenti di jurnal. Inovasi tidak lahir dari ide semata, tetapi dari sistem yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi kekuatan ekonomi,” ujarnya.


Prof. Affendy menjelaskan bahwa negara-negara dengan investasi riset dan pengembangan (R&D) di atas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) terbukti mampu mendominasi teknologi global dan menentukan arah pasar. Sebaliknya, negara dengan investasi riset rendah akan terus bergantung pada impor teknologi dan kehilangan kedaulatan ekonomi jangka panjang.
Perspektif nasional disampaikan oleh Dr. Rasam, M.A, Wakil Dekan I FEBI IAIN Pontianak, yang menyoroti posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam ekonomi dan keuangan syariah dunia. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa potensi tersebut tidak akan berkelanjutan tanpa penguatan riset terapan, inovasi industri halal, dan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan global.
“Ekonomi syariah Indonesia menunjukkan kinerja global yang kuat. Tantangannya sekarang adalah memastikan riset dan inovasi kampus benar-benar menjadi penggerak industri, bukan sekadar pencapaian statistik,” tegasnya.


Sementara itu, Dekan FEBI IAIN Pontianak Dr. Samsul Hidayat, M.A menegaskan bahwa kolaborasi internasional FEBI dengan UNIMAS merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun fakultas yang memiliki ciri khas keilmuan, relevan dengan kebutuhan industri, serta responsif terhadap tantangan global. Perguruan tinggi, menurutnya, harus berani bertransformasi dari pusat pengajaran menjadi pusat inovasi dan solusi pembangunan.
Kegiatan ini menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam arsitektur daya saing nasional. Tanpa keberanian mereformasi ekosistem riset dan memperkuat kemitraan dengan industri, Indonesia berisiko tertinggal dalam kompetisi global yang semakin ditentukan oleh kecepatan inovasi dan kemampuan mengelola pengetahuan.
Penulis : Muhammad Holil
Foto : Humas IAIN Pontianak
