FEBI Gelar Seminar dan Dialog Kebangsaan

PONTIANAK – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak mengelar Seminar dan Dialog Kebangsaan dengan tema “Peran Pemuda dan Mahasiswa Dalam Mencegah Paham Radikalisme (ISIS) Demi Menjaga Keutuhan NKRI”, pada hari Kamis (12/03/2020) di Aula Syeikh Abdul Rani Mahmud. Kegiatan ini menghadirkan Habib Abdullah Ridho Bin Yahya, Kombes.Pol. Komarudin, S.I.K, M.M, dan Dr. H. Syarif, S.Ag., MA sebagai narasumber.

Dalam pidato pembukaan yang disampaikan oleh Dr. H. Fachrurazi, MM selaku Dekan FEBI IAIN Pontianak, beliau membeberkan beberapa program yang telah disusun oleh FEBI.

“Dalam waktu dekat FEBI rencananya akan mendirikan Pusat Studi Halal dan Badan Wakaf dan Amal, dalam rangka memfasilitasi mahasiswa agar memiliki peran dalam jihad fii sabilillah untuk pengembangan ekonomi dan bisnis syariah”, ujarnya.

Sementara itu, dalam penyampaian materinya Rektor IAIN Pontianak menjelaskan bahwa paham radikal itu mengarah kepada kudeta karena gerakan dari paham tersebut bersifat frontal. Sehingga kaum intelektual seperti para mahasiswa tidak diperbolehkan memiliki sikap radikal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Dalam pemikiran Islam yang baik, saya tuntut para mahasiswa untuk bersikap radikal. Namun dalam radikalisme bernegara, sikap radikal saya larang, karena dalam paham ini ada gerakan anti Pancasila dan UUD 1945, intoleransi terhadap umat beragama, dan memiliki keinginan untuk mendirikan negara khilafah islamiyah”, kata beliau.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Habib Abdullah Ridho Bin Yahya, bahwa paham radikalisme harus dihindari untuk menjalin khairunnas (hubungan sesama manusia) yang baik.

“Ada lima hal yang harus umat Islam pahami agar tercipta khairunnas yang baik, antara lain: pertama menjaga hati selalu bersih dari hal – hal yang buruk, kedua sikap berperikemanusiaan, ketiga tabayyun (positive thinking dengan mencari fakta yang sebenarnya terjadi), keempat percaya bahwa hidayah datang dari Allah, dan yang kelima senantiasa berbuat baik kepada siapapun”, ungkapnya.

Pembahasan semakin menarik ketika Kombes.Pol. Komarudin, S.I.K, M.M, menyampaikan materinya. Beliau mengatakan bahwa perkembangan teknologi membuat paham radikalisme berkembang pesat di masyarakat. Terutama bagi kaum milenial yang bisa dengan mudahnya mengakses berita/informasi dari media sosial tanpa tabayyun dan mengusut tuntas informasi yang didapat.

“Banyak cara paham radikalisme ini berkembang dimasyarakat, seperti: keterbukaan informasi sehingga mudah mempengaruhi generasi-generasi muda, kemajuan teknologi yang menjadi sebuah ancaman, dan adanya propaganda di masyarakat”, katanya.

Terakhir beliau berharap output dari kegiatan ini dapat menciptakan mahasiswa-mahasiswa yang bisa menjadi perantara dan menjadi agen-agen informasi kepada masyarakat luas bahwa paham radikalisme ini harus dihindari. (monica)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *