Dea Anggraini Lulusan FEBI Dengan IPK Tertinggi

Dea Anggraini Irawan wisudawan FEBI IAIN Pontianak dengan IPK 3,89 untuk lulusan FEBI.

Kuliah sambil bekerja ternyata tak membuat Dea Anggraini melalaikan pendidikannya. Terbukti gadis kelahiran 28 Mei 1996 itu berhasil menyelesaikan kuliahnya di Prodi Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak selama empat tahun dengan IPK 3,89.

Hariyadi, Pontianak

Kamis 28 Maret 2019 menjadi kebahagian tersendiri bagi pasangan suami istri, Ferry Irawan dan Siti Aminah Wati. Ya, kedua orangtuanya itu begitu bahagia karena putri pertamanya, Dea Anggraini Irawan telah menyelesaikan pendidikannya di FEBI IAIN Pontianak.

Bersama anggota keluarga yang lain dan orangtuanya wisudawan-wisudawati, Ferry Irawan dan Siti Aminah Wati mendatangi pusat gedung olahraga, untuk menghadiri dan menyaksikan secara langsung prosesi wisuda anak tersayangnya.

Sumringah senyum Ferry Irawan dan Siti Aminah Wati pun tak dapat dihindarkan, tak kala nama putrinya dipanggil lalu kuncir di kepalanya digeser Rektor IAIN Pontianak, Syarif sebagai tanda telah menyelesaikan pendidikannya di kampus yang terletak di Jalan Soeprapto, Kecamatan Pontianak Selatan itu.

Dea Anggraini Irawan mengaku sangat bahagia telah berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan tepat waktu. Kebahagian itu lebih bertambah ketika ia berhasil mendapat predikat sebagai lulusan dengan IPK tertinggi untuk lulusan di FEBI, yakni 3,89.

“Alhamdulillah, sebenarnya tidak pernah menyangka jika bisa dapat IPK tertinggi,” kata Dea Anggraini, ditemui usai mengikuti acara wisuda siang kemarin.

Tak mudah bagi anak pertama dari empat saudara itu menyelesaikan kuliahnya. Ia harus mampu membagi waktu antara kuliah dan bekerja.

“Awal-awal kuliah uang jajan masih dikasi. Tapi dalam perjalannya sekitar 2016 orangtuanya bilang coba cari uang jajan sendiri,” cerita wanita berkerudung itu.

Permintaan orangtuanya itu pun ia amini. Berbekal pengetahuan akademik yang memadai, Dea Anggraini pun mulai menjadi guru privat bagi siswa-siswa sekolah dasar.

“Jadi Dea ngajar privat untuk anak-anak sekolah dasar, seperti bahasa Inggris, matimatika sampai belajar mengaji. Dari ngajar itu dapatlah penghasilan bulanan,” ucap gadis yang sejak sekolah dasar hingga madrasah aliyah kerap meraih juara.

Kuliah sambil bekerja itu ternyata tak membuat Dea Anggraini melalaikan kuliahnya. Bahkan ia mampu membuktikan kepada orangtuanya jika dirinya mampu menyelesaikan kuliahnya tepat waktu dan dengan nilai tertinggi.

“Kerja sambil kuliah memang agak sulit tapi harus atur waktu. Kadang pas kuliah harus ngajar tapi saya minta izin kepada orangtua murid, agar waktunya diganti sore atau malam,” kata Dea Anggraini.

Setelah melewati Lika liku kehidupan Dea Anggraini pun telah membuktikannya, jika ia mampu melewati masa-masa sulit itu. “Saya hari ini bahagia, bisa menghadirkan gelar sarjana ini untuk orangtua. Terimakasih untuk ayah dan ibu yang sudah mendukung Dea selama ini,” ucapnya.

Setelah menyelesaikan studi strata satu, Dea Anggraini pun punya mimpi. Ia ingin melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi, yakni strata dua ekonomi di IAIN Pontianak.

“Inginnya ambil S2. Tapi belum ada uangnya. Mudah-mudahan nanti ada rezekinya dan mimpi itu bisa terwujudkan,” harap Dea Anggraini. (**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *